Gunung Sumantri Papua, Gunung Eksotis yang Terjal Berselimut Salju

Gunung Sumantri Papua, Gunung Eksotis yang Terjal Berselimut Salju
Alamat: Tembagapura, Kec. Tembagapura, Kab. Mimika, Papua.
Biaya Tiket Wisata: –
Google Maps: Cek Lokasi

Gunung Sumantri salah satunya gunung dalam serangkaian Pegunungan Jayawijaya, Papua yang memikat diekpslor keelokannya. Gunung ini mempunyai pucuk yang terjal dan ada pada ketinggian 4.870 mdpl yang paling melawan bagi beberapa pencinta alam.

Gunung Sumantri juga dikenal bernama komplet Gunung Sumantri Brodjonegoro. Walaupun ketenarannya tidak dapat menandingi Gunung Pucuk Jaya, tapi cukup untuk mengundang perhatian beberapa pencinta alam. Membubung di atas ketinggian 4.870 dari permukaan laut, menyuguhkan medan yang tajam dan terjal.

Pemandangan disebelah utara sebagian besar dikuasai oleh tebing terjal yang terhitung sisi Noordwand atau dinding samping utara Gunung Pucuk Jaya. Tercipta lewat bentrokan lurus Pasifik dengan lurus Australia, dan makin lama hasilkan subduksi yang semakin semakin bertambah. Saat sebelum membuat pegunungan, permukaan batu-batuan di dasar laut mengarah ke atas terlebih dulu.

Tersebut mengapa gunung di Papua rerata mempunyai material batu kapur, tidak kecuali Gunung Sumantri. Untuk beberapa pendaki pemula, tujuan wisata melawan satu ini nampaknya terlampau susah untuk ditaklukan. Karena itu, dibutuhkan kontribusi perlengkapan yang condong lebih komplet. Keunggulan topografinya semakin mencolok, sekarang jadi 350 mtr. sebelumnya setelah cuma sekitaran 200 mtr..

Pesona yang Dipunyai Gunung Sumantri

Pesona Gunung Sumantri Papua
Photo Credit: En.wikipedia.org

Pemandangan Salju yang Cantik

Pucuk Sumantri terhitung dalam serangkaian pegunungan Jayawijaya, bersama dengan Pucuk Carstensz dan Pucuk Jaya. Walau Indonesia terhitung negara beriklim tropis, tapi Anda dapat mendapati susunan salju saat masuk teritori di ujung timur ini. Diprediksi es itu telah tercipta semenjak beberapa ribu tahun kemarin, karena itu dicap sebagai es kekal.

Pasti, melihat susunan es di atas pegunungan negara tropis sebagai suatu hal yang spesial. Pengalaman yang kemungkinan didambakan beberapa orang dan mengharap dapat dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali sepanjang umur.

Sayang, ingat medannya demikian susah, sampai disebutkan jalan satu cara seperti tiga cara, sedikit orang yang dapat merealisasikannya, khususnya di kelompok pemula. Bila Anda sedang menyiapkan diri atau tertarik mendaki sampai ke pucuk Gunung Sumantri, yakinkan mempunyai perlengkapan dan bekal mencukupi.

Berita baiknya, Anda dapat melihat susunan es tak perlu berdiri di Pucuk Sumantri atau pucuk yang lain langsung, dapat lewat salah satunya lajur pendakian, yaitu New Zealand Pass. Tidak dikenali tentu argumen penyebutan New Zealand Pass, beberapa menjelaskan karena kemunculan pemandangan di sini seperti pada New Zealand versus lain.

Tetapi, ada pula berita yang tersebar jika lajur ini pertama kalinya diekspedisi oleh orang New Zealand, karena itu dicap begitu. Apa saja itu, Anda dapat menyaksikan salju karena itu. Berdasarkan padang savana yang mempesona, dengan gunung dan pohon-pohonan berjajar, susunan putih terlihat menyelimutinya Pucuk Jaya dan Pucuk Sumantri.

Trekking Pendakian yang Panjang

Faktor riwayat sebagai sisi yang jangan dipisah demikian saja saat akan memandang satu rekreasi alam, terhitung salah satunya Gunung Sumantri atau mempunyai panggilan Tidak Pulu saat sebelum tahun 1973. Dilaksanakan ekspedisi pertama kalinya dilaksanakan di tahun 1936, waktu itu dikenali dengan istilah Pucuk Gunung Ke-2 pada Dinding Utara.

Seterusnya, Heinrich Harrer pernah mendaki pada tahun 1962 dan membuat trek lajur pendakian. Saat itu, masih memakai panggilan yang serupa, yaitu Tidak Pulu “Sunday Peak”. Adapun istilah Sumanteri diambil dari nama Profesor Sumantri Brodjonegoro, seorang Menteri Sumber Daya Energi dan Mineral Republik Indonesia, yang meninggal dunia di tahun 1973.

Di tahun 1936, pucuk paling tinggi Gunung Tidak Pulu sukses ditaklukan untuk pertamanya kali oleh Anton Colijn, Frits Wissel, dan Jean Jacques, pendaki bernegara Belanda. Kemudian, September 1971, Reinhold Messner lakukan pendakian solo pada dinding utara tebing sampai capai ketinggian 600 mtr..

Setahun selanjutnya, tiga pendaki terbagi dalam Dick Isherwood, Jack Baines, dan Leo Murray ikut lakukan pendakian dan mendapati pasak yang ditinggal oleh Messner di pucuk samping utara. Bersamaan berakhirnya waktu sampai sekarang ini, telah banyak pendaki yang menaklukan Gunung Tidak Pulu sesudah melalui riwayat ekspedisi panjang oleh beberapa orang sebelumnya.

Ramai dikunjungi pendaki selama setahun, terutamanya pada musim kemarau atau bulan Mei dan Juni. Ini karena kabut akan menyelimutinya gunung bila pendakian dilaksanakan pada bulan Maret dan September. Ada susunan es tipis yang menyelimutinya teritori ini, tapi terus mencair tiap tahunnya sebagai dampak dari pemanasan global.

Banyaknya Kulineran di Sejauh Perjalanan

Perjalanan ke tujuan pendakian Gunung Sumantri benar-benar panjang. Anda akan singgah ke bermacam tempat, melalui lajur udara, laut, dan dataran. Dalam peristiwa itu, Anda akan habiskan waktu beberapa hari saat sebelum datang di kaki pegunungan. Ini belum terhitung pendakian ke arah pucuk paling tinggi.

Berada di wilayah Papua Barat, memiliki bentuk sama dengan rimba, gunung, rimba Dipterokarp Atas, rimba Dipterokarp, dan rimba Montane. Karena itu, tidak boleh terlewat peluang untuk mencicip kulineran yang kemungkinan Anda jumpai sepanjang perjalanan. Bahkan juga, bila perlu membeli seperlunya untuk perbekalan setiba di pucuk paling tinggi.

Selainnya sama dengan kearifan budaya dan keberagaman suku, Papua Barat populer akan kekayaan kulinerannya. Dimulai dari ikan bakar manokwari, kue lontar, sate ulat sagu, papeda, ikan buntel, udang serong, martabak sagu, dan ada banyak kembali. Tiap menu tawarkan cita-rasa yang unik, beberapa salah satunya pas untuk jadi rekan makan di pegunungan.

Lokasi Menuju ke Gunung Sumantri

Lokasi Gunung Sumantri Papua
Photo Credit: The7summitsindonesia.com

Perjalanan Anda akan berawal dengan penerbangan ke arah Sugapa dari Timika, selanjutnya dituruti tindakan jalan kaki ke Dusun Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, yang memerlukan waktu lebih kurang 10 jam. Medannya memang susah sekali tersentuh. Bila ditotal keseluruhnya, Anda akan habiskan waktu sekitaran 4 sampai 5 hari.

Pergi dari Dusun Ugimba, Anda akan melewati salah satunya jalur pendakian, yakni New Zealand Pass. Menerpai di atas ketinggian 4.000 mdpl, dibalut udara tipis, Anda perlu jalan kaki sepanjang 4 hari. Dalam prosesnya, beberapa pendaki akan didera kecapekan sampai napas berasa putus-putus. Walau demikian, mata Anda akan dimanja oleh beragam pemandangan cantik yang mengagumkan.

Sebuah padang savana menghampar di lajur New Zealand Pass. Gunung dan pohon-pohonan jadi latar belakangnya. Disini, Anda akan disuguhi pemandangan serangkaian Pucuk Sumantri dan Pucuk Jaya yang diselimuti susunan es warna putih. Kemudian, tiba waktunya Anda capai Basecamp Danau-danau.

Gunung Sumantri kelihatan makin terang pada bagian pucuknya karena Anda sekarang ada pada ketinggian 4.330 mtr. dari permukaan laut. Saat sebelum melewati Pucuk Carstensz, Basecamp Danau-danau ialah titik paling akhir. Sebagai info tambahan, Pucuk Carstensz tidak mempunyai susunan es, tapi sebagai pucuk paling tinggi di Indonesia dan capai 4.884 mtr. dari permukaan laut.

Anda akan mendaki Pucuk Carstenz memakai jalur tali atau disebutkan final rope. Disini, panorama Pucuk Sumantri di seberang sana makin memikat sampai bisa jadi membuat Anda lupa semua kecapekan yang menimpa. Akan tetapi, tidak boleh terlampau asyik memperhatikan susunan es kekal dari terlalu jauh karena pendaki dianjurkan kembali lagi ke permukiman pada jam 12.00-13.00 WIT.

Ini karena di jam-jam itu sering terjadi kabut yang menebal. Disamping itu, Anda tidak dapat meramalkan kapan turunnya hujan salju di Pucuk Carstensz. Alternative lain, dapat melalui lajur Pucuk Carstensz Timur, pergi dari Yellow Valley. Umumnya memerlukan waktu 3 sampai 4 jam dengan jalan kaki.

Semua penghitungan jalur di atas belum terhitung perjalanan ke arah Gunung Sumantri. Masalahnya dari Pucuk Carstensz, Anda harus melewati medan terjal untuk tepat berdiri di teritori tujuan arah khusus. Sebetulnya, jalur itu akan sedikit enteng bila melewati perusahaan tambang ke Basecamp Danau-danau. Namun, perizinannya cukup ketat dan sulit didapat.

Tidak ada ongkos masuk khusus yang berjalan di kaki gunung ini ibarat tempat wisata lain, tapi ongkos perjalanannya malah dikumpulkan jauh sebelumnya. Sesuaikan resiko pendakian dan sewa porter untuk menolong Anda mengusung barang, sekurang-kurangnya perlu modal beberapa puluh juta tiap orang.

Selain sulitnya medan yang perlu dilewati, nampaknya argumen lain kenapa object menarik ini tidak demikian terkenal ialah ongkos perjalanannya tidak bermain-main. Belum juga, bila Anda pergi dari Pulau Jawa, contoh. Pasti, usaha itu akan sama dengan kepuasan yang hendak Anda capai saat sukses memijakkan kaki di pucuk gunung.

Kegiatan yang Menarik Dilaksanakan di Gunung Sumantri

Kegiatan Gunung Sumantri Papua
Photo Credit: Suradi & Mufti

Mendokumentasikan Eksotisme Pegunungan

Lebih dari sekedar beberapa foto elok untuk isi saluran media sosial, tiap saat yang terlewatkan sepanjang pendakian bahkan juga pantas didokumentasikan. Tidak boleh cuma memercayakan camera handphone, tapi bawa peralatan photografi terbaik yang Anda punyai. Bila dibutuhkan, tidak jadi masalah untuk menyisihkan beberapa dana terpisah untuk sewa perlengkapannya.

Dimulai dari medan yang terjal, batu-batuan kuat yang tajam, padang savana, sampai susunan es di pucuk gunung. Walaupun tidak sama dengan kehijauan alam, tetapi serangkaian Pegunungan Jayawijaya memiliki daya tarik tertentu yang sanggup tinggalkan kesan-kesan dalam di hati beberapa pendaki.

Batu-batuan warna abu kehitaman pada bagian pucuk kelihatan sangat estetis. Seperti kelompok karang di pesisir pantai. Belum juga, pemandangan perkampungan nun jauh di dasar bukit. Lewat sasaran lensa camera, Anda bisa menunjukkan keunggulan daerah paling luar di ujung timur Indonesia.

Melihat Sunrise

Kegiatan satu ini tentunya benar-benar memikat untuk dilaksanakan di Gunung Sumantri. Dari ketinggian beberapa ribu mtr., langit akan berasa demikian dekat seakan tepat di atas kepala. Untuk dapat merealisasikannya, Anda harus punyai ketahanan fisik yang kuat untuk berlomba sama waktu.

Makin lamanya proses pendakian dilewati, karena itu makin lama juga saat yang dibutuhkan untuk datang sisi di pucuk. Dalam rencana menyiasati kesusahan itu, yakinkan Anda melakukan latihan fisik sekurang-kurangnya sepanjang sebulan saat sebelum agenda keberangkatan. Latihlah otot kaki, lakukan jalan jauh teratur sehari-harinya.

Bersantai Dipuncak Gunung

Saat datang di pucuk gunung, kemungkinan hal pertama kali yang perlu Anda kerjakan ialah istirahat. Cari spot paling nyaman untuk sekedar duduk dan melepaskan capek. Rasakan oksigen yang mengucur melalui indra pernafasan.

Selain itu, Anda bisa juga mulai melahap bekal. Tidak perlu tergesa-gesa, cicipi saja tiap detik yang terlewatkan di Gunung Sumantri bersahabat hembusan angin.

Mendaki gunung, maknanya Anda siap lakukan replikasi bertahan hidup. Semua harus Anda siapkan sendiri semenjak tinggalkan rumah karena sarana di sini sangat kurang. Mumpung susunan es di Gunung Sumantri belum menetes sepenuhnya karena pemanasan global, cepatlah berkunjung ke sana, terutamanya untuk Anda pencinta rintangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.